ORDINARY
Oleh : Clara Riski Amanda
“Ulangan
Fisika lagi, aduhh…!” Kiky menyerobot sepotong roti dimeja belajarnya,
menelannya, mengambil nafas, lalu diam sebentar. Ia lantas meminum segelas air
sebelum mendarat di loby asrama.
“Udahan? Kita
udah telat ini!” teriak seorang gadis dari sudut loby.
“Gara-gara
kamu sih, kamu kan yang matiin alarm aku tadi subuh? Ngaku!” Tanya Kiky.
“Loh, aku aja
baru bangun setengah tujuh ini, kamu yang kesiangan kok malah nyalahin aku?.”
Sahut Ambar.
“Duh,
mending berangkat sekarang deh!” Kiky menutup percakapan itu dengan kesal.
Tanpa suara,
mereka berjalan cepat, Kiky tak lagi menghiraukan jalanan becek menghadang,
Ambar juga membiarkan roknya menyapu sampah rumput-rumput teki disepanjang
jalan. Sejak tadi Kiky sibuk memasangi dasi dan jam tangannya. Sementara Ambar
masih berusaha fokus meniup-niup jilbabnya yang lecek tak disetrika.
Gedung hijau
tampak semakin dekat, dua pembina asrama sedang berdiri gagah menunggu
korban-korbannya pagi ini. Dan Kiky akan menjadi salah satunya. “Sorry tad,
kesiangan tadi.” Ucapnya pada salah seorang ustaz . Ustaz itu hanya menggeleng
pelan. Dengan tampang memelasnya, Kiky menyusun jari jemarinya di dada meminta
iba. Ustadz itu hanya tersenyum pasrah, dan berteriak sesaat mereka pergi, “
Anak IC loh,..!”.
Kiky dan
Ambar hanya tertawa.
Yah, mereka
lolos pagi ini.
Tidak seperti
biasanya, dari kejauhan mereka melihat kelasnya tampak ramai, riuh, seperti
tidak ada kegiatan pembelajaran. Radius 5 meter mereka bisa mendengar teriakan
teman-temannya dari dalam kelas. Tanpa ragu, Ambar bergumam dihatinya, “ Pak Al
kayanya gak datang, yes!”. Sementara Kiky menatapnya dengan maksud pemikiran
yang sama.
Mereka
sedikit berlari mengambil langkah besar, tak sabar untuk segera menuju kelas
dan merayakannya. Bahkan mereka melompati pot bunga yang berjejer didepan taman
untuk mengambil jalan pintas. Langkah mereka terhenti tepat didepan pintu
kelas. Sesosok pria berperawakan tinggi tegap, tengah duduk bersantai dikursi
salah seorang siswa. Yap, dikursi duduknya Kiky. Kiky terhernyit. Diam. Pria
itu asik membaca coret-coretan dimejanya. Kiky terburu-buru menghampiri meja
tersebut dan menghela nafas panjang saat melihat coretan-coretan itu. Banyak
sekali cacian yang ditulisnya disana saat ia sedang kesal dikelas. Termasuk
untuk pria itu. Pak Al, guru Fisika disekolahnya.
“ Kamu mau
keluar sekarang atau tunggu saya suruh? Sudahlah setiap ulangan remedial,
berani-beraninya datang terlambat!” oceh pak Al kearah Kiky, sementara Ambar
yang berada disampingnya seolah tidak ada.
“ Iya pak,
iya… Saya keluar deh sekarang..” sahut Kiky malas.
“ Kamu lagi Ambar, gara-gara ssekamar sama Kiky kan, kamu jadi
ikutan bandel gini, yaudah Ambar kamu duduk sana.” Ucap pak Al. Ambar berjalan
melewati teman-temannya. Ia memang terkenal sangat pandai, dan terhitung jarang
membuat ulah.
Beberapa teman lain memanggil
Kiky. Langkah Kiky terhenti dengan wajah yang heran. Demy, salah seorang teman
membisikkan “Kita gak jadi ulangan!”
Seketika ekspresi Kiky berubah, wajahnya tampak letih dan tak bersemangat.
“Jadi karna itu kelas pada heboh? Ye.,kirain pak Al gak datang,
taunya gak jadi ulangan.” Gumam Kiky
kesal.
Menjadi
ordinary adalah kesukaan Kiky, bukan tipikal anak yang suka nyari muka dikelas,
atau ambisuis dengan nilai. Juga bukan golongan anak yang dibilang begitu
bandel, juga bukan yang begitu baik. Baginya menjadi natural adalah pilihan
terbaik, begitupun dengan pergaulan, “Yang ingin berteman silahkan, yang tidak
ingin juga gapapa” Itulah prinsip Kiky. Beberapa mata memandangnya sebagai
gadis yang cuek. Dalam segala hal. Baik pelajaran, penampilan, dan apapun itu.
Dan dia juga lebih suka sendiri. Bukan dalam artian menutup diri dari orang
lain, tapi menciptakan Susana yang lebih nyaman baginya untuk tidak mencari
masalah. Biarlah semuanya biasa saja, itulah yang selalu dipikirkannya.
Tak
heran, nilai-nilainya bisa dibilang juga terlalu biasa. Kalau tidak KKM, ya
lebih sedikit. Dia juga kerap mendapat masalah dibeberapa mata pelajaran. Ia
tidak terlalu dikenal oleh guru, juga oleh adik atau kakak kelasnya. Mungkin
absurd, tapi dia menyukainya. Kejadian yang menimpanya pagi ini menambah
panjang kasus pengusirannya dari kelas dalam sebulan terakhir. Tapi Kiky, dia
masih menganggap itu “biasa”, bagitulah dia.
Tanpa
berfikir panjang, ia langsung menuju kebun belakang sekolah. Sekolahnya, Man
Insan Cendekia adalah sekolah madrasah yang sedang naik daun didaerah tempat
tinggal mereka. Sekolah Berbasis asrama inilah yang menjadi sekolah pilihan
orang tua Kiky, seorang siswi sekolah negeri dengan pemahaman agama yang
dibilang pas-pas makan. Akhirnya hari-harinya tak berjalan cukup baik, yang dia
lakukan semata-mata hanya untuk menyenangkan orang tuanya.
Dibelakang
ruang RKB, ada kebun-kebun warga yang sangat luas. Kebun-kebun itu diapit oleh
hutan disebelah kiri dan kanannya. Namun antara bangunan sekolah dan kebun itu,
terdapat besi-besi pembatas yang menjadi pemisah keduanya. Dibelakang pagar,
terdapat kursi-kursian yang terbuat dari bongkahan batu yang dihubungkan dengan
kawat-kawat pengait. Kiky kemudian duduk dibatu yang disusun bertingkat itu, ia
memandang kearah hamparan kebun yang luas. Disana lah tempat Kiky
menghabiskan waktunya ketika diusir dari kelas. Dia tidak tampak begitu
menyesalinya. Dia mencoba menikmati dan membiarkan hal-hal mengalir seperti air.
Juga
tidak banyak yang tau, Kiky sangat suka menulis. Ia kerap menghabiskan
waktunya hanya untuk menulis sesuatu jika ia memang sedang ingin. Maka,
ketenangan yang disuguhkan pemandangan disana adalah tempat yang sangat cocok
baginya untuk menulis.
Kiky
duduk bersila. Ia mengeluarkan notebook nya. Beberapa saat ia termenung.
Seperti sedang memikirkan topik apa yang akan dia tulis. Lalu jemarinya tanpa
sadar sudah menggoresi kertas itu.
“Aku bukan tak ingin, aku juga berusaha.
Tapi memahami hal-hal sulit terlalu keras bagiku.
Mungkinkah aku jago kimia, fisika, matematika, dan biologi dalam semalam saja?
Mungkin, jika peri gigi masih ada.
Ia
menulis sesekali sambil tertawa. Kiky juga terkadang terheran-heran mendapati
dirinya sedang tertawa sendiri. Ia lalu menatap ke sekelilingnya, dari kejauhan
dia melihat botol air mineral memantulkan cahaya. Lantas ia bergegas mengambil
botol itu. Setelah memandanginya beberapa saat. Kiky lalu merobek tulisan itu
dari notebooknya, memasukkan kertas itu kedalamnya. Dan menyelipkannya diantara
bebatuan dan kawat tempat duduknya tadi.
Terkadang ia
juga tak paham dengan apa yang ia sendiri lakukan, tapi yang pasti, ia harus
kembali kekelas sekarang karna pelajaran fisika akan segera berakhir. (*)
Hari
ini Kiky bagun pagi sekali. Dia bahkan sudah sampai dikelas saat belum ada yang
datang. Kiky kemudian membuka kotak berisi nasi goreng dari dalam ranselnya. Ia
kemudian sarapan. Kemudian Dian, teman sekelasnya datang.
“Ky,
kita yang presentasi biologi hari ini kan? Catatannya ada dikamu kan?”
“Ada
di notebook kok, aman!” jawabnya
“Liat
dong, aku belum ada baca ni, mau ngomong apa aku ntar.”
Kiky
lantas mengecek ranselnya. Dia mencari kemana-mana. Tapi notebooknya tidak ada.
Kiky termenung dan kemudian tersentak. Ia baru sadar bahwa ia meninggalkannya
dibelakang sekolah.
”Jangan
bilang kamu lupa bawa!” Tanya Dian.
“Eng.. enggak
kok.. ada.. itu.. disana..aku ambil dulu ya..! bye!” Kiky lantas pergi
meninggalkan Dian yang masih kebingungan.
Dengan tergesa-gesa ia berlari menuju belakang sekolah, Ia semakin panik, dan
berlari semampunya. Hingga akhirnya ia sampai di kursi batu itu dan mendapati
notebooknya tergeletak diatasnya. Persis seperti posisinya sebelumnya. Kiky
lantas meraihnya dan kembali berlari menuju sekolah. Syukurlah, Buk Vije, guru
biologi mereka belum datang.
Presentasi Kiky dan Dian berjalan lancar. Seperti biasanya, Kiky selalu
bertindak sebagai moderator atau pemeran pembantu lainnya dalam presentasi. Ia
masih memegang prinsipnya kuat-kuat.
Lonceng
istirahat lalu berbunyi. mengakhiri pelajaran biologi pagi itu. Siswa yang lain
berlarian menuju kantin dan sibuk membicarakan menu kantin hari ini. Sementara
Kiky yang sudah cukup energy dari nasi gorengnya tadi pagi, duduk santai
sendirian didalam kelas sambil membolak-balik notebooknya. Kiky tiba-tiba
menatap lama halaman terakhir notebooknya. Ia memperhatikannya tajam, dan
memasang ekspresi heran.
“Wah gawat,
siapa yang nulis ini?” Tanya nya dalam hati.
“Peri
gigi juga belajar keras untuk bisa mengabulkan permintaan.”
Seseorang
menulis kalimat itu dicatatan terkhir notebook Kiky. Seseorang telah menemukan
botol surat yang ditinggalkannya dibelakang sekolah, lalu menemukan notebook
itu, membacanya, dan mengirimi surat balasan. Itulah yang sedang berputar-putar
dikepala Kiky sekarang. Kiky kaget bukan kepalang. Jantungnya melompat-lompat.
Ia tak sampai pikir ada yang akan menemukan botol itu. “Ini masalah besar.”
pikirnya.
Kiky
tak tau apa yang harus ia lakukan, orang itu pasti sudah membaca semua isi
notebooknya. Orang itu pasti sudah tau masalah akademiknya yang
hancur-hancuran. Orang itu pasti menganggap dirinya orang yang bodoh, pikirnya.
Setelah berfikir sejenak, ia lalu pergi ke kursi batu saat itu juga dan menulis
surat balasan.
“ Aku bukan
peri gigi. Aku tidak pandai belajar begitu keras. Aku juga bukan siapa-siapa.
aku cukup puas dengan diriku yang sekarang. Juga dengan nilai ku yang sekarang.
Aku juga tak butuh nasihatmu, terimakasih sudah lancang membaca diary ku.”
Ia
kemudian mencari botol mineral bekas dan memasukkan surat itu, dan kemudian dia
meletakkannya kembali ditempat yang sama. Dengan tergesa-gesa ia kembali ke
kelasnya.(*)
Malam
itu entah mengapa Kiky begitu gelisah, ia justru sangat berharap orang itu
membalas kembali suratnya. Ia tak bisa tidur memikirkan siapa dan mengapa orang
itu repot-repot membaca notebooknya. Tapi satu hal yang ia inginkan sekarang
adalah, pagi segera tiba secepatnya.
Benar
saja, jam pertama pagi ini adalah fisika, Kiky sengaja datang terlambat agar
pak Al menyuruhnya keluar. Sehingga ia bisa mengecek perkembangan suratnya
dibelakang sekolah. Benar saja, setibanya disana secarik kertas sudah berada
tepat diatas kursi batu itu. Kiky tak sabar mengambil dan membacanya.
“Maaf, aku
tak sengaja menemukan botol itu tersangkut dibatu Saat aku sedang bermain
dibelakang sekolah, aku menemukan buku itu disampingnya dan tak sengaja
membacanya. Aku tidak sedang menasihatimu, aku juga tidak menganggapmu orang
bodoh. Hanya saja aku tau, kau justru sedang tidak menjadi dirimu saat kau
ingin menjadi orang biasa. Kau punya potensi, tapi kaulah yang sengaja
menguburnya. Sekali lagi,
aku tidak sedang menasihatimu. Kau sendiri yang lebih mengetahui kebenaran dari
yang aku katakan. Namaku
Juan. Aku kelas XII IPA 3.”
Kiky
membaca surat itu perlahan. Berulang-ulang, dan mencoba memahami maksud orang
yang menulis ini. Hanya saja, sudah dapat dipastikan, orang yang membalas
suratnya juga seorang siswa dan juga suka bermain-main dibelakang sekolah. Tapi
Juan? Dia seperti tidak pernah mendengar nama itu.
“Ada
yang mempercayai kemampuanku? Bahkan aku sendiri pun tidak.” Pikirnya.
Ia
kemudian memutuskan untuk bolos sekolah hari itu dan merenung ditempatnya biasa
merenung. Ia menunggu kalau-kalau orang yang membalas suratnya itu datang.
Sepertinya dia orang yang menyenangkan, pikirnya. Kiky memutuskan untuk
melanjutkan surat mereka.
“Aku juga minta
maaf. Itu semua kelalainku meniggalkan buku itu disana. Aku sendiri tak begitu
yakin dengan yang kau katakan. Sepertinya aku tak punya potensi apapun. Akupun
juga tak begitu berharap. Bagaimana dengan mu?
dan ya, kau bisa memanggilku Kiky! Aku dari X IPA 1.”
Setelah menulis kalimat itu, kiky
meninggalkan kursi batu dan segera pulang keasrama saat hari semakin senja. Tak
ada yang mencarinya. Kelas pun berjalan seperti biasanya hari itu.(*)
Dear Kiky,
“Aku mungkin
replika dirimu. Tapi kita sedikit berbeda. Aku tak suka menjadi seperti
kebanyakan orang. Aku terus mencari apa yang bisa menjadi identitasku. Aku
adalah juara kelas. Mungkin kau tak mengenalku, tapi aku
mengetahuimu. begitupun denganmu, aku juga suka menulis dan bermain
dibelakang sekolah. Hanya saja aku kesana saat tak ada pembelajaran dikelas,
bukan seperti kau yang bolos dari kelas.
Aku juga
sekolah disini awalnya karna orang tuaku. Tapi aku tak begitu saja membiarkan
hari-hariku disini membosankan karna hati yang terpaksa. Aku mencoba menikmatinya.
Andai kau tau, sejarah akademik ku mungkin jauh lebih buruk dari mulik mu. Aku
dulu hampir tinggal kelas, bahkan terancam drop out.
Tapi akhirnya aku sadar, sekolah ini yang membentukku.
Sholat
berjamaah membuatku lebih menghargai waktu, aku semakin baik mengatur jam
belajar sebagaimana mengatur waktu untuk tidak masbuk sholat
berpuasa
sunnah membuatku lebih menghargai tubuhku, aku semakin baik dalam mengatur pola
makan dan menjaga kesehatan.
Sholat
tahajud membuat malamku menjadi begitu maksimal, aku merasakan allah didekatku
dan selalu ada.
Bersama
teman-teman diasrama menyadarkanku, bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita
butuh mereka dan akan selalu membutuhkannya.
Kesulitan dan
kendala yang kualami disini menyadarkanku, bahwa tidak ada sukses yang diraih
dengan mudah.
Semua aku
dapatkan disekolah ini, semua menuntunku untuk menjadi seorang juara. Aku juga
melalui ini bukan dengan proses yang mudah. Aku juga harus meninggalkan zona
nyamanku. Aku juga butuh usaha yang keras. Aku juga berusaha menemukan potensi
yang ada pada diriku. Dan jika ingin berhasil, aku tidak bisa melakukannya
seperti yang sudah dilakukan orang kebanyakan.
Kau bukannya
tidak memiliki potensi, tapi hatimu terlalu beku berada disini. Kau jauh dari
allah, kau juga masih melakukan apapun dengan setengah hati.
_
Juan
Kiky
tertegun membaca surat dari Juan keesokan harinya ditempat itu. Dia terdiam
diatas batu itu. Seketika memori tentang dirinya hadir membayang. Dia tidak
pernah mempersiapkan ulangan dengan baik, dia juga tidak mengikuti kegiatan
sekolah dengan sepenuh hati, dia tidak mempermasalahkan waktu belajarnya yang
tersia-siakan hanya karna datang terlambat, dia selalu merasa puas dengan apa
yang sudah diterimanya, dia tidak membuka diri terhadap perubahan-perubahan.
Juan menyadarkannya dari lamunan yang panjang.
“Mungkin kau
benar. Sepertinya kau tak keberatan membantuku menemukan potensi itu. Bisakah
aku belajar denganmu?” Kiky menulisnya dengan ragu.
Dan kalimat
balasan terakhir dari surat – menyurat itu adalah,
“MULAILAH
MENCINTAI SEKOLAHMU…,!”
_ Juan
#Cerpen ini meraih juara 3 pada kompetisi penulisan cerpen tingkat MAN Insan Cendekia Siak

Komentar
Posting Komentar