Malam jum’at, cimporong1 pesantren sudah dipadamkan. Tandanya telah tutup kajian. Asok3 mengepul, tapi bukan sekelumit asok jalanan. Sedikit damai dan lebih hangat. Tak kau bayangkan cimporong itu tetap bisa menyala malam ini. Kau kira dia tidak akan. Asok cimporong itu sampaikan padamu pesan yang berat, tentang bahasan cendekiawan ini yang belum juga kau mengerti. Mereka berdebat dakwah. Kau hanya takjub saat Bilal melempar-balikkan argumen si Buya5 Umar.
Buya turun mimbar dan memperbaiki kaca matanya. Perlahan berjalan di pinggiran santri. Kau sepintas teringat ayah saat si Buya ramah sapa-nya. Santri memang tak sempat temui ayah mereka, tapi ayahmu rasa disini bersama si Buya. Rampung bersama sorban putih yang melilit lehernya membuat si Buya tak tampak tua. Garis wajahnya hanya beradab dalam wibawa. Berjalan di belakang, ustad Arkan dan ustad Khalid menenteng kitab-kitab kajian. Kau lihat mereka dihisap kelam sambil berjalan masuk ke lorong aula. Lalu terdengar terompah nya sesekali saja.
Santri kemudian membubarkan diri, membangunkan aula yang mulanya diam. Kebanyakan sibuk merapikan sarung, sebagian lain tampak serius dalam misi pencarian: sandal yang tak bertuan.
“Kau belum puas? Masi ingin membahas?”
Santri kemudian membubarkan diri, membangunkan aula yang mulanya diam. Kebanyakan sibuk merapikan sarung, sebagian lain tampak serius dalam misi pencarian: sandal yang tak bertuan.
“Kau belum puas? Masi ingin membahas?”
“Bila
kau tak keberatan,” Bilal tersenyum.
“Tentu,”
kutimpali.
“Sebenarnya, mindset mereka
terlalu stagnan. Penyelenggaraan dakwah itu bukan hal yang baru,
juga bukan mainan elite agama sebagai
penunjang pamor dan kekuasaan. Kau sependapat ? “
“Aku setuju, tapi tetap saja dalam konteks
bermasyarakat, tidak semua dakwah dipandang benar. Apalagi dalam konteks
politik. Satu dua dari mereka malah menuding balik bahwa kau adalah penyebar
perpecahan. “ Jawabku.
“iya
aku tau, tapi bukankah…” kalimat Bilal tak bersambung.
Pembicaraan serius itu mendadak terhenti. Situasi meminta diskusi alot ini pantasnya diakhiri. Bukan karna tak cukup bahan, tapi sorotan mata yang tajam mengawasi kami dari kejauhan. Ustad Umam, Alis matanya berkata bahwa asrama akan segera dikunci. Kau ingin berlama-lama dan tidur di teras?
Tanpa instruksi, kami sama-sama beranjak dari posisi. Kami tak
berani menatap balik, melainkan hanyut dalam perasaan takut sambil menahan
gelak. Ingin rasanya segera pergi, namun sandal malah tak tampak. Maka
berakhirlah kami berdua tanpa alas kaki. Peristiwa gosob-menggosob ini sudah sangat biasa. Tak pantas kau herankan.
Asrama mu tidak jauh, kalian berjalan di
sepanjang batang serai yang berbaris. Dari pada melihat kebawah waktu kakimu
mulai mendekil, kalian melihat ke atas ketika puncak langit menyapa datang.
Seperti memaksa malam untuk bersyukur karna memilikinya, rembulan itu terlihat
bangga. Bangga karna cimporongmu tetap hidup malam ini. Bangga karna Buya kami,
masih tetap ayah kami. Lebih dari sekedar menerangi, malam ini bulan kelihatannya sedikit becerita lebih.
Membangkitkan nuansa keramahan di atas langit pesantren, yang hampir saja
terampas.
Ketika itulah tanpa sadar lama berjalan, kalian sampai di dormitory.
“Esok hari yang panjang. Sempat untuk debatkan
ini, sedang kau tau ini cukup larut.” kau dahului saja saat Bilal baru akan
angkat bicara. Jika tidak, dia akan menyambung diskusi tadi.
“Kau memang payah, Aidan”.
Ia
beranjak naik ke kasur lalu memejamkan mata. Alis matanya tegas disertai raut
wajah yang penuh keyakian. Orang idealis seperti ini benar-benar sedikit,
pikirmu. Bayangan mu tentang dia yang gagah berani di pagi kemarin kian
membuatmu takjub. Ah, andai kau seperti dia. Matamu justru sulit memejam, kau
masih seolah tak percaya dengan apa yang kemarin kau lewati. Memorimu
terpanggil kembali,. Tentang angin dan udara dingin di pagi kemarin.
Pagi
itu, ketika belum sempat subuh benar-benar habis, kau malah gusar. Tak kau
dapati sepi, Justru kasak-kusuk yang mengusik. Suara kaki yang berlari seperti sedang
mengejar kereta di stasiun lalu kau dengar.
kau panik. Hey, bukankah kita sudah subuh berjamaa’ah. Tampak bayangan orang-orang yang silih
berganti melintas, terus tanpa putus, ramai sekali. Mereka antusias namun tanpa disertai rona wajah
ketakutan. Satu hal yang dapat kau
pastikan, itu bukan kebakaran. Kau
dongakkan kepala dan ikuti mereka.
Kerumunan santri telah berkumpul di
rumah si Buya. Kau tetap tak mendapat tangkapan view yang bagus. Terlalu ramai disana.
“Kau
tau kita sedang apa?” tanyamu pada Habib.
“Tidak
juga,” Jawabnya.
Ketika
itu, dua orang berseragam polisi berjalan keluar membawa Buya Umar. Pandanganmu
terasa kabur dan masih belum yakin.
Kakek itu tampak tenang saja dengan sorbannya. Seolah ia dijemput penuh
kehormatan untuk jamuan makan malam. Santri-santri
mulai riuh seperti anak ayam hilang induknya. Suara suara tak percaya membaur
diatas atap. Langit gelap
subuh tak jadi berubah terang, justru malah semakin kelam. Orang-orang riuh
ramai.
“Itu Buya?”
“Aku
harap bukan, tapi… itu memang Buya!” Jawab Habib.
Kalian
dihisap keheningan. Atmosfer terasa lebih panas, namun senyap. Ranting-ranting
mendadak diam. Luruh dalam pandangan ketika si Buya melintas pelan. Saling
tatap, lekat, masih tak percaya. Tak ada yang bertanya, apalagi bersedia
menjelaskan. Para mudarris pun terpaku dibuatnya.
Sampai
si Bilal, angkat bicara.
“Permisi pak, Laku apakah yang harus
dipertanggungjawabkan?”
“Sebagai
pimpinan pondok, Buya Umar bertanggung jawab atas dugaan penyebaran paham
radikal di pesantren Mardhatillah ini.” Pria bertubuh kakung dengan kumis tebal
itu berujar.
“Paham
radikal dalam konteks apa?”
“Kau
jangan bertindak seolah kami ini tak memiliki pemahaman tentang ilmu agama.
Adalah hal yang klasik diberitakan bahwa politisasi pesantren sarat akan
penyebaran aliran dan paham radikal.” Pria yang satu lagi menimpali.
”Itu
stereotype yang tak berdasar.” Bilal tersenyum.
“Menurutmu
kau tahu lebih banyak?” satu pria mulai kesal.
“Tidak
juga, aku hanya ingin tahu bapak polisi ini membidik bagian mana?”
“Cukup Bilal, kau menghabiskan waktumu untuk
menjelaskan mereka tentang apa itu radikal. Sisakan bagian untukku untuk
memperjelasnya.” Buya Umar dengan tenang menimpali lalu tersenyum.
Semua
serba cepat. Lalu ufuk pun beranjak naik. Cahaya pagi menyingsing ke balik
bajumu. Seluruh isi pondok hikmat menyimak. Belum
selesai sampai disana, suara-suara masa lalu kau dengar. Itu bukan amukkan,
mereka hanya beramai-ramai menyongsong gerbang pesantren. Memana dan membidik
kearah dalam. Sesaat kemudian, mereka malah menerobos masuk. Wajah-wajah itu,
memadam merah penuh amarah. Melemparkan ketidakpercayaan, dan hasrat untuk
beriak. Kau hanya tak bergeming, mencerna apa yang sedang berlangsung. Mereka riuh. Bising.
“TUTUP
PESANTREN INI!!!”
“RADIKALISASI
TAK BERMORAL!”
“TERORISME
TAKKAN KAMI BIARKAN!!”
Aungan
mereka gencar-gencarnya. Tak sepaham dengan suasana pagi yang harusnya damai.
Tetua-tetua mulai buka suara, menyamaratakan emosi secara sepihak. Tak ada
tawar menawar. Awan harus kelam, bagaimanapun sang surya. Mata mereka melempar
harapan untuk sebuah jawaban. Tatap kian keras ke arah sang Buya, yang masih
tenang bersama mereka orang yang berseragam.
“
Apa landasan datuk-datuk ini? Tak sempat mengucap salam?” lagi-lagi Bilal ambil bagian.
Para
mudarris kocar-kacir menenangkan masa. Orang ramai ini susah diajak bicara.
Buluh9 penyangga
ikut-ikutan diterjang juga. Jalan depan
pesantren mendadak padat merayap. Motor di parkir pula tanpa aturan. Sedang
mereka berorasi langsung ke dalam.
“Kami
lebih senang saudara datang dan sampaikan perihalnya dengan penuh kehormatan.
Bukan dengan tindak tak bernorma.” Seru ustad Khalid waktu dia maju ke barisan
depan. Beradu tatap dengan masa, tak getir pun ia. Sembari dua pria polisi tadi
mencoba tenangkan keadaan, mereka sigap.
“Bukan
tak ingin kami titipkan anak kami mengaji, kenapa malah hadir biang teror dalam
ranah kami?”
“Jelaskan
dimana kaitannya antara terror, islam, radikalisasi dan pesantren!” Ustad
Khalid ajukan pertanyaan pertama. Lalu Bilal, kini berdiri disampingnya.
Kombinasi yang apik. Ditambah ribuan santri yang melingkar membentuk barisan.
Sementara si Buya, dibawa masuk oleh mudarris lain. Buya masih sama, dengan
senyumannya sebelumnya.
“
Kenapa pesantren ini mencetak teroris?” Datuk
itu tak sempat mengambil nafas, kalimatnya ingin segera memuncak. Santri
tersirat darahnya, tak yakin dengan perihal yang baru saja datuk itu tanyakan.
Semua orang tersentak, tak Percaya. Kau masih sama. Diam saja.
“Sebentar,
aku Ingin bertanya kecil datuk. Apakah fakultas hukum berniat mencetak
koruptor?” Bilal justru menanya balik.
“Jangan
kau alihkan alur kataku anak muda. Doktrin apa yang Buya ajarkan? Sampai kalian
memberontak!”
“Tunggu
datuk. Jika yang kau maksud radikal adalah pemahaman dan penolakan terhadap
penyelewengan syariat islam, maka ya! Kami sangat RADIKAL!!” Ustad Khalid ambil
alih.
“
Kalian jangan hanya pandai memberontak,
sementara berlindung dibalik kata-kita JIHAD!!“
“Karna
itukah datuk melabeli pesantren kami? Hanya karna mengajarkan jihad, lalu
dianggap radikal. Padahal dalam al-quran, kata jihad itu muncul lebih dari 30
kali.” Ulasan datuk itu dipatahkan dengan mudah oleh Bilal. “ Kami bukan
memberontak, selektif terhadap ideologi dan aktivitas anarki adalah perihal
yang berbeda. Islam adalah ramhmatallilalamin,
kami berdiri diatas dakwah justru menyampaikan kebenaran. Kenapa para
teroris bertudung santri? Mengatasnamakan islam? Padahal bukan salah pesantren
ajarkan akidah, jika hidayah allah cabut kearah yang salah.” Tambahnya.
Masa
mendadak diam, hanyut dalam ujaran Bilal. Atmosfer pagi dihidupkan kembali.
Sedang datuk tak sanggup balas apapun. Datuk terkencit, wajahnya kian padam.
Para santri justru yang mulai riuh menggaung-gaungkan takbir. Kini masa kalah
suara, apalagi jumlah. Suaramu terdengar paling keras, kekaguman pada saudaramu
kian bertambah. Lalu
aparat mulai ramai, membubarkan mereka. Datuk-datuk itu tetap tak senang.
Mereka masih menatap sama. Tapi aparat lebih keras, tak pantas membiarkan
mereka.
Kau langsung kembali sadar, dari lamunanmu tentang cerita di pagi kemarin. Bilal masih tepat di hadapanmu, masih seperti tadi. Lekat kau tatap bingkai foto disebelahnya, foto kalian bersama si Buya tengah berpose apik. Tak sampai kau temukan motivasi untuk tertidur, malah kau semakin kuat terjaga. Apalagi melihat ‘ayah’ mu disana, seperti dia benar ayahmu saja.
Kau langsung kembali sadar, dari lamunanmu tentang cerita di pagi kemarin. Bilal masih tepat di hadapanmu, masih seperti tadi. Lekat kau tatap bingkai foto disebelahnya, foto kalian bersama si Buya tengah berpose apik. Tak sampai kau temukan motivasi untuk tertidur, malah kau semakin kuat terjaga. Apalagi melihat ‘ayah’ mu disana, seperti dia benar ayahmu saja.
Penerangan terbaikmu masih sama, cimporong itu. Kali ini cahayanya lebih cerah dari sebelumnya, memantulkan bayangan kursi kayu dibelakangnya. Suatu kesyukuran untuk masih bisa merasakan hangatnya, si cimporong pesantren, cimporong kami.
Lalu
kau teringat saat kau pulang kampung
bulan lalu, saat kau duduk di stasiun dan orang-orang menatapmu. Ketika
itu, isu teroris masih lekat dan panas. Kau menggunakan peci dan sarung,
seperti sebuah kesalahan. Kau santri, dan itu mengganggu mereka. Kau duduk, dan
orang-orang malah mengambil kursi lain. Orang berjanggut lewat dihadapanmu,
mereka menatap dia sama seperti mereka menatapmu. Wanita yang panjang jilbabnya
berlalu, juga diperlakukan sama. Air matamu tak tau, tiba-tiba keluar saja. Dan
kau sadar, cimporong mu masih tetap menyala, dan itu cukup.
“Tidak
mengantuk?”
“Ah,
apa aku membangunkanmu?” Tanyaku.
“Tidak,,”
Sahutnya dengan cepat.
“Aku
hanya terpikir rasis dan islam.”
“Selama
islam masih ada, penistaannya juga akan tetap ada. Begitupula dakwah, akan
terus ada.” Kau
mulai tenang mendengarnya. Kau balas dia dengan tersenyum, menarik selimutmu
dan bersiap naik ke kasur.
Kau
mematikan cimporongnya, lalu tertidur.
∞
#Tulisan ini meraih peringkat 9 lomba cerpen Pesantren Menulis 4 dan dibukukan menjadi buku antologi cerpen.

Komentar
Posting Komentar