Langsung ke konten utama

Pencabutan Subsidi, Apakah Solusi?



Hasil gambar untuk pencabutan subdsidi arts

Setelah pesta Demokrasi selesai dan semua pihak sudah mendapatkan potongan kue nya, saatnya pembuatan kebijakan dimulai. Kebijakan-kebijakan ini tentunya tidak dibuat dengan harga murah, ketika harta-harta mereka telah bayak terinvestasikan pada masa kampanye. Pemerintah kemudian seperti melakukan evaluasi program-program yang dinilai tidak tepat sasaran. Mulai dari pencabutan subsidi Gas, BBM, Listrik, bahkan gaji guru honorer.

Bagi mereka, percuma menggelontorkan uang Negara untuk sesuatu yang tidak tepat guna. Gas bersubsidi selama ini dinikmati orang-orang mampu, listrik bersubsidi dipakai oleh orang-orang kaya, Gaji honorer mengikis dana BOS sekolah. Semua tidak berjalan sesuai rencana. Sebagai gantinya, akan ada bantuan khusus bagi masyarakat miskin untuk menghindari kemubaziran ini. Pertanyaannya, bagaimanakah cara mereka menggolongkan si miskin dan si kaya tersebut? Apakah ketika seseorang hanya mampu mencukupi satu kali makan saja, baru terkualifikasikan sebagai orang miskin? Selanjutnya, seberapa yakin mereka mampu menjaga konsistensi pemberian bantuan tersebut tetap terlaksana? Padahal selama ini hal-hal seperti itu hanya diberikan di muka sebagai iming-iming, tau-tau tidak lagi ada kabarnya. Lalu, Akan dikemanakan dana yang semula digunakan untuk subsidi? Apakah sudah pasti tidak masuk ke kantong-kantong nakal dan  para pejabat mulai suap-suapan?

Masyarakatlah yang kemudian yang akan menanggung beban. Apa yang akan mereka lakukan jika usaha nya terancam tutup karna tak sanggup membeli gas? Bayangkan, tanpa subsidi, harga gas elpiji akan menjadi dua kali lipat. Mau tidak mau para pedagang harus mengakali atau bahkan tak mendapat keuntungan sama sekali. Belum lagi ketidakpastian bantuan pemerintah. Lah wong pendataannya saja tidak jelas. Yang dekat dengan RT  bisa mendapatkan bantuan, sementara yang membutuhkan malah tidak kebagian. Ini apakah tidak salah sasaran juga jatuhnya?

Sangat jelas sekali, ketika pemerintah mencoba menghadirkan solusi, tidak ada masalah yang benar-benar mereka coba selesaikan, melainkan sedang mencoba menutupi kegagalan mereka untuk mensejahterakan masyarakatnya.

Lebih miris lagi, para konglomerat dan perusahaan-perusahaan justru semakin didandani. Sebaga contoh, perusahaan sawit Darmex Agro Group telah mendapatkan subsidi (Rp915 miliar) dengan setoran Rp27,58 miliar; Musim Mas (Rp1,54 triliun) dengan setoran Rp1,11 triliun; First Resources (Rp479 miliar) dengan setoran Rp86,95 miliar; dan LDC (Rp410 miliar) sebesar Rp100,30 miliar (CNN, 2020). Terlihat bahwa pemerintah dengan ringan tangan menghadiahi mereka uang subsidi bermilyaran jumlahnya untuk alasan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini justru terjadi ketika pendidikan formal di Indonesia saja carut marut dan gaji guru yang tak terbayarkan, lalu mereka malah mengatasnamakan pengembangan sumber daya manusia. Dalam melihat hal-hal yang tidak tepat sasaran saja, sebenarnya tolak ukur mereka sudah berbeda. Semua atas dasar kepentingan dan kemanfaatan, bukan semata-mata mensejahterakan rakyatnya. Begitulah dunia kapitalis bekerja.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...