Langsung ke konten utama

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar








Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012).

Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yang mengalami lonjakan dari angka 0,65 untuk tahun 2018 (Kemenkes, 2019).

Penuntasan virus dengue masih sangat sulit dilakukan karena sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat membunuh virus. Berbagai upaya penelitian diketahui masih berada dalam tahap pengembangan. Namun terlihat bahwa penanggulangan demam berdarah saat ini masih semata-mata bergantung pada langkah-langkah pengendalian vektor virus, seperti program-program pencegahan dan pemberantasan nyamuk. Sedangkan Aspek pengamatan terhadap wabah demam berdarah dalam skala besar belum banyak dianalisis. Terlebih lagi, proses perekaman data terhadap wilayah yang terjangkit DBD di Indonesia belum menggunakan metode yang efisien.

Untuk itu, dalam menentukan langkah yang tepat untuk menanggulangi wabah DBD, diperlukan penelitian yang komprehensif hingga mencapai tataran populasi. Proposal ini bermaksud untuk menawarkan suatu terobosan yang mampu meningkatkan efisiensi pendataaan sebaran wabah DBD di berbagai wilayah di Indonesia. Metode ini dapat menjadi solusi bagi para peneliti dan ahli medis dalam pengkajian virus dengue dan korelasinya dengan agregasi geografis, sehingga menghasilkan metode penanggulangan demam berdarah yang lebih efektif pada level nasional.



# Tulisan ini adalah latar belakang PKM GT Universitas Indonesia yang dikirim ke DIKTI 2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...