Langsung ke konten utama

Suara-Suara dari Pulau, untuk Indonesia!


           

            Suara-Suara dari Pulau, untuk Indonesia!


Perhelatan olahraga mahasiswa terbesar di Indonesia, Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) kembali menjadi ajang temu tatap bagi para mahasiswa di seluruh Indonesia. Setiap daerah akan muncul dengan komposisi yang paling ciamik untuk memenangkan berbagai cabang olahraga. Dengan total 713 mendali yang akan diperebutkan, tentunya akan menjadi pertarungan sengit bagi 3.404 atlet mahasiswa yang masing-masing menyandang nama daerah mereka.

Nuansa kultural yang kental sangat terasa ketika beragam tarian kolosal khas daerah dipertontonkan saat pembukaan acara di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro. Hal ini tak menampik fakta  bahwa kekayaan budaya Indonesia memang tak perlu dipertanyakan. Mereka, dari Indonesia yang paling ujung sekalipun, membaur menjadi seperti sebuah kolase yang menunjukkan eksistensinya untuk kemajuan dunia olahraga Indonesia.

Sebagai juara bertahan, kepercayadirian DKI Jakarta akan semakin baik mengingat  Jakarta akan menjadi tuan rumah untuk acara POMNAS tahun ini. Begitupun dengan provinsi lain yang tampak serius mempersiapkan kontingen terbaiknya dengan berbagai target medali yang sudah diperhitungkan dengan matang. Seperti pernyataan pemantik semangat dari Gubernur Sumatra Utara, Edi Rachmayadi, berikut ini :  “Untuk membawa nama Sumatera Utara yang harum, kalian harus berprestasi. Itu yang prioritas,” Berbagai latihan pun mungkin telah jauh-jauh hari dipersiapkan, untuk menjadikan daerah masing-masing sebagai pemeroleh medali terbanyak nantinya.

Bagi mereka yang notabene bukanlah ‘atlet dari kota’, ada suatu kebanggan yang sulit dijelaskan ketika mereka mampu mengenalkan “ini daerah saya” kepada penduduk Jakarta. Adanya stigma tentang keluarbiasaan ibu kota sudah menjadi barrier sejak lama bagi anak-anak daerah. Maka dalam suatu kesempatan apapun, mampu mewakili daerah mereka untuk beradu laga di kota orang adalah hal yang terasa mengagumkan. Penulis sendiri sebagai anak daerah, tahu benar mengenai tuntutan psikis para anak daerah ketika menghadapi rivalnya  yang berasal dari kota.

Hal ini bukan berarti ada disparitas kemampuan ­­­­­­­-dalam hal ini pada mahasiswa-  antara yang di daerah dan di kota. Hanya saja perspektif yang terbangun dalam masyarakat kita memanglah demikian, di samping memang karena terdapat perbedaan sarana dan prasarana yang tersedia di suatu wilayah. Keberadaan fasilitas ini tidak berlebihan jika dianggap sebagai penunjang kelas satu untuk pesiapan yang harus dimiliki para atlet, yang sayangnya, tidak dimiliki oleh setiap daerah.

Tak dapat dipungkiri, dalam hal pemerataan, Indonesia masih perlu banyak belajar. Akan sangat disayangkan bilamana bibit emas yang justru terpendam jauh di dalam suatu pulau kecil, tidak dapat diberdayakan hanya karna tidak ada lapangan untuk berlatih. Penulis sangat mengapresiasi segala bentuk upaya pemerintah dalam ‘menghidupkan’ daerah-daerah  3T, namun memang tempat yang tidak tersentuh pembangunan sama sekali, juga tidak sedikit jumlahnya. Seperti yang pernah di bahas dalam rapat Komisi X DPR RI dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi yang membahas masalah anggaran tahun 2020 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Menariknya, hal inilah yang justru kerap melejitkan semangat para atlet daerah. Mereka seperti ingin bersuara bahwa kompetensi mereka juga dapat diperhitungkan. Tidak pun mendapat fasilitas yang sama –dalam hal ini fasilitas olahraga- sebagai penunjang pengembangan bakat mereka, namun kegigihan dalam keterbatasan inilah yang kadang tidak dimiliki mereka yang terfasilitasi segala kebutuhannya. Maka suara anak-anak pulau kadangkala terdengar lebih nyaring, menunjukkan mereka juga ingin mengambil peran untuk mengharumkan sang Saka.      

Masih lekat dalam ingatan tentang kisah seorang pelari muda asal Nusa Tenggara Barat yang menghebohkan dunia olahraga Indonesia beberapa waktu lalu. Dialah  Lalu Muhammad Zohri, yang kemudian berhasil menuliskan namanya sebagai peraih mendali emas  dalam Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 di Finlandia. Remaja yatim piatu ini bukanlah berasal dari kalangan yang berada, bahkan pernah ragu untuk terjun ke dunia atlet karena berbagai kecemasan, termasuk perihal biaya. Namun semangatnya mematahkan keadaan sehingga mampu membawa nama Indonesia di lintas bangsa.

Sampai ke Berangkat dari kisah Zohri, terlihat bahwa Indonesia memiliki potensi-potensi tersembunyi entah di suatu desa kecil yang mungkin belum terperhatikan. Banyak anak-anak berbakat yang kemampuannya bisa aja belum terasah dengan baik. Padahal, sudah seharusnya mereka memperoleh hak yang sama untuk bisa mengembangkan diri mereka secara optimal.

Melalui pertemuan mahasiswa seluruh Indonesia dalam ajang POMNAS ini, tentunya akan menjadi representasi mengenai berbakatnya anak-anak di seluruh Indonesia dari sabang sampai merauke. Bahwa Indonesia benar-benar serius untuk mencari dan menemukan bibit-bibit emas yang akan dipercayakan nantinya menyandang nama negara, bukan lagi nama daerah mereka. Kesungguhan para atlet muda ini berlatih, meskipun dalam berbagai keterbatasan, adalah modal tersendiri untuk menumbuhkan nilai-nilai juang dan optimisme dalam diri mereka. Tak peduli dari mana mereka berasal, dari pulau kecil sekalipun, suara mereka adalah untuk Indonesia.

Dengan begitu, sejatinya para mahasiwa hendaklah memaknai esensi dari POMNAS ini bukan hanya sebagai ajang kompetisi belaka, melainkan sebuah media untuk  mengaitkan rasa kebersamaan dan kesatuan antarmahasiswa dan terhadap wilayah-wilayah Indonesia yang barangkali belum pernah mereka pijaki sebelumnya. POMNAS ini adalah sebagai ajang berpadunya putra-putri terbaik bangsa dalam rangka satu tujuan untuk kelak membawa Indonesia bermartabat di mata Olahraga dunia.
           




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...