Langsung ke konten utama

HARI SENIN DI SELASAR

 

HARI SENIN DI SELASAR

Oleh : Clara Riski Amanda

Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya.

Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan.

Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung bilang supaya terlihat keren. Padahal taktik itu hanyalah cara untuk menghindari sepatu-sepatu mereka terisi air ketika menyeberangi sungai Harang. Dulu pernah ada jembatan tali, tapi belakangan sudah terlalu rapuh untuk dipakai menyeberang. Lagi pula sungai Harang tidak deras dan airnya hanya setinggi lutut. 

            Kalau sampai di sekolah, mereka akan berebut duduk di barisan paling depan. Kata Puja, suara Pak Buyung yang sudah enam puluh tahun itu kerap tidak kedengaran. Sedangkan Sri, matanya seperti tidak jelas melihat tulisan-tulisan di papan tulis, angka-angka matematika terasa berlari-lari. Lain lagi si Teguh, ia ingin duduk di depan supaya bisa cepat pulang ketika pelajaran selesai. Padahal di kelas mereka hanya ada dua belas anak, empat anak perbaris. Jadi kalau tidak duduk di depan, sudah pasti akan duduk di  tengah atau di belakang.

            Mereka paling suka hari Senin. Sederhana saja, karena hari senin ada upacara bendera. Bila sebagian orang merasa hari Senin adalah permulaan untuk aktivitas yang padat dan membosankan, sama sekali tidak bagi mereka. Kalau hari Senin tiba, empat sekawan akan berangkat sekolah lebih pagi hanya untuk menyiapkan podium tempat instruktur upacara, Pak Buyung, berdiri. Sepanjang perjalanan mulut mereka akan komat-kamit seperti baca mantra, berusaha mengulang-ngulang hapalan. Terkadang mereka akan berdebat lama tentang urutan-urutan sila yang benar.

            Kalau sudah tiba di lapangan, Teguh dan teman-temannya akan hompimpa untuk menentukan siapa yang akan berdiri paling depan. Walaupun badan Sri paling kecil, tapi Gentung sangat ahli urusan hompimpa ini sehingga dia sering kedapatan melihat bendera merah putih berkibar jelas, walaupun menutupi kawan-kawan lain dengan tubuhnya yang gempal. Anak-anak itu juga tidak mau berbaris terpisah. Mereka ingin membuat semacam ‘kekuatan suara’ yang powerfull ketika mengulangi butir-butir Pancasila yang dibacakan Pak Buyung.

            Pak Buyung terlihat tinggi berkat podiumnya, sebuah pijakan yang terbuat dari delapan belas bilah kayu yang dirakit membentuk balok dengan tiga bilah kayu untuk setiap sisinya. Semua anak dapat melihat Pak Buyung sekalipun yang berdiri paling belakang. Kalau Pak Buyung sudah di atas podium, semua mendadak diam dan mulai fokus mendengarkan guru sekaligus kepala sekolah mereka itu. Anehnya, suara Pak Buyung akan terdengar nyaring ketika menjadi instruktur upacara, berbeda dengan suaranya ketika di kelas yang kadang-kadang timbul tenggelam.

            “PANCASILA” Seru Pak Buyung lantang.

            “PANCASILA…” Mereka mengikuti.

            “Satu”

            “Satu…”

            “Ketuhanan yang maha esa”

            Anak-anak itu  akan serempak mengulangi kata-kata Pak Buyung. Sekolah Dasar dengan peserta didik tak sampai seratus orang ini bisa mendadak menimbulkan gema besar bahkan terdengar sampai ke bilik-bilik rumah penduduk berjarak puluhan meter dari sekolah. Mungkin itu semua berkat suara empat sekawan yang sudah menghapalkan sila-sila sejak menyeberang di sungai Harang.

Setelah itu, diiringi beberapa teman yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua anak mengangkat hormat kepada bendera yang bergerak naik menembus udara.

             Seusai upacara, tepat sebelum dibubarkan, Pak Buyung akan turun dari podium menghampiri anak-anak. Mereka akan berebutan untuk menyalaminya. Puja dan Teguh sudah pasti dapat dengan lincah menyergap tangan Pak Buyung untuk disalami duluan, sedangkan Gentung –meski berdiri paling depan– langkahnya sering terhambat karena kesulitan bergerak.

Begitulah kisah Teguh, Sri, Puja, dan Gentung ketika mereka berempat adalah bocah kelas dua Sekolah Dasar 27 tahun silam. Kini, mereka kembali berkumpul di selasar sekolah. Duduk saling sejajar dan bernostalgia tentang cerita-cerita di hari Senin.

***

             Hari ini, Senin 23 Juni 2047, mereka bertemu kembali. Empat sekawan itu balek kampung. Teguh baru saja mendarat di pangkalan udara kemarin, sekembalinya ia menjadi delegasi Indonesia pada konferensi umat beragama di Kuala Lumpur, Malaysia. Puja, yang kini sudah menjadi prajurit angkatan darat, sudah sebulan yang lalu mendahului Teguh karena ingin berlebaran di kampung halaman. Sri sudah tiba sejak tiga hari lalu. Ia kini telah menjadi wakil rakyat yang bertugas di ibukota. Sedangkan Gentung, si gempal itu, memang tidak kemana-mana karena ia kini menjadi kepala desa di kampung mereka.

            Dua puluh tujuh tahun. Waktu yang panjang untuk menyaksikan tumbuh kembang ibu pertiwi. Kini, tak ada yang tak kenal Indonesia. Negeri itu telah bertransformasi hebat. Semua lini sudah memiliki wajah baru. Embel-embel ‘berkembang’ di belakang negara sudah terhapus oleh ‘maju’. Tak ada lagi jembatan tali untuk menyeberang sungai. Tak ada korupsi. Tak ada lagi anak-anak putus sekolah karena mencari makan. Tak ada pengangguran. Tak ada lagi kampung-kampung yang tertinggal. Tak ada kriminal. Orang-orang dengan bangga memamerkan KTP-nya, bahwa mereka adalah anak negeri.

***

            Teguh, Sri, Puja, dan Gentung sudah tiba di sekolah mereka sejak pukul sembilan pagi, tepat ketika lonceng berbunyi dan murid-murid memasuki jam istirahat. Anak-anak sejak tadi menatap heran ke arah empat orang dewasa itu, mereka mengira empat sekawan adalah wali murid dari siswa bermasalah yang dipanggil kepala sekolah.

            Teguh menatap seksama  ke arah dinding-dinding kelas yang dipenuhi gambar-gambar mural. Ia takjub. Dahulu, tempat mereka belajar hanya kayu-kayu yang disusun dan tidak pula diberi cat. Dahulu, lapangan upacara hanyalah tanah kuning yang akan becek bila hujan turun. Dahulu, podium Pak Buyung tidak seperti sekarang yang sudah permanen oleh keramik berwarna putih. Sekolah mereka benar-benar telah berubah.

            Mereka berjalan menyusuri koridor. Di samping kiri kanan akan tampak majalah dinding mahakarya siswa-siswi. Di sebelahnya akan terlihat papan pengumuman besar berisikan nama-nama anak dengan prestasi ini dan itu. Tak begitu jauh dari sana, sebuah lemari kaca tempat piala-piala kejuaraan tampak berdiri gagah. Di sepanjang selasar gedung, terdapat pula kursi yang berjejer untuk tempat bercakap-cakap santai. Empat sekawan lalu duduk di sana, dengan kenangan mereka yang terus memanggil-manggil.

            “Hari Senin yang sama, di tempat yang sama, dengan suasana yang benar-benar berbeda.” Bisik mereka di dalam hati masing-masing.

            Setelah menemukan posisi yang pas untuk mendapatkan view yang bagus, mereka mulai bercengkrama. Di hadapan mereka anak-anak berlarian dan bergurau riang. Mereka pun teringat ketika dahulu berlari-lari di Sungai Harang dengan kaki telanjang dan sepatu yang dikaitkan ke leher.

            “Hey Us-taz Te-guh, ayolah ajari kami ilmu kau yang banyak itu barang sedikit.” Ucap Puja memulai pembicaraan.

            “Kau akan dengar tidak? Telingamu kan agak bermasalah.” Sahut Sri sambil sedikit tertawa.

            “Bagaimana mungkin kalian meragukan seorang prajurit?” Gentung menimpali.

            Mereka tertawa bersama. Tawa Puja paling keras. Ia teringat ketika dahulu kesulitan menangkap suara Pak Buyung. Padahal suara Pak Buyung memang lemah volume.

            “Kalau ini kan dari ustaz Teguh, pasti akan langsung meresap di kepalaku.” Balas Puja.

            “Baiklah, Akan kuceritakan padamu tentang umat-umat beragama” Sambut Teguh semangat. Ia lantas membenarkan kopiahnya, lalu mulai menatap serius. “Tuhan. Semua dilandasi ketuhanan.” Sambungnya.

            Di selasar itu, Teguh mulai bercerita. Tentang perjalanan spiritualnya. Bahwa Indonesia tidak seperti dua puluh tujuh tahun lalu. Kini konflik-konflik itu sudah tidak ada. Semua orang bertuhan, tak ada yang menyimpang. Bila menyusuri sudut-sudut negeri, umat beragama tampak hidup saling rukun. Mereka menghargai satu sama lain, sadar betul terhadap prinsip ketuhanan.

            “Sesekali, ajaklah aku ke negeri-negeri yang kau kunjungi itu.” Kata Sri. Begitulah Teguh, ia memang kerap berada di suatu negara di pagi hari, kemudian sudah sampai di negara yang lain pada sore harinya. Tugasnya adalah misi perdamaian. Dunia ingin mendengar dari Teguh, tentang bagaimana Indonesia mampu mendudukkan rakyatnya yang bhineka. Bagaimana tidak, ibu pertiwi ini sudah menjadi suri tauladan.

            Jam istirahat telah berakhir. Bel elektrik terdengar berbunyi nyaring. Seingat mereka, dahulu hanya ada suara pentungan yang terbuat dari bilah bambu untuk memberi tahu waktu. Kini semuanya berbeda. Anak-anak segera menuju ruang belajar.  

            “Dulu aku ingin sekali berada di atas podium itu, menjadi Pak Buyung. Lalu membacakan Pancasila keras-keras.” Ucap Gentung sambil menatap penuh haru ke arah podium yang terbuat dari keramik putih itu. Posisinya tidak pernah berubah, selalu di sana.

            “Kau kan sudah menjadi kepala desa, kau juga melakukannya setiap apel pagi kan?” Sahut Puja.

            “Begitulah,” Gentung tersenyum. Lesung pipinya terlihat jelas.

            Memang benar, impian Gentung kecapaian. Sejak dulu ia selalu ingin berdiri di atas podium menggantikan Pak Buyung. Kini ia jauh melampaui itu semua. Gentung adalah saksi bagaimana kampung mereka bertransformasi. Sekarang tidak ada lagi anggapan bahwa desa-desa tidak se-mutakhir daerah metropolitan. Pembangunan sudah merata. Desa sudah tidak lagi sulit dijangkau. Tidak ada lagi istilah anak-anak pedalaman. Begitupula tentang pendidikan, anak-anak desa bisa diadu. Kompetensi mereka dapat diperhitungkan. Keadilan sosial menjadi sebuah niscaya.

            “Tunggu dulu, bagaimana dengan politikus kita ini?” Gurau Teguh kepada Sri. “Padahal dahulu rambutnya selalu berantakan.” Sambungnya.

            “Saat ini pun masih begitu” Sahut Sri. Mereka tertawa.

            Meski sudah menjadi wakil rakyat, Sri tetap sederhana. Pekerjaannya memang itu saja, mendengarkan suara rakyat. Saat ini, orang-orang sudah tidak tahu apa itu mencit berdasi. Menjadi politikus tidak lagi untuk memperkaya diri. Indonesia hari ini sudah menjadi bersih. Kalau tiba masa kampanye, wakil rakyat akan mendengarkan suara rakyat, bukan malah mengumpulkannya. Kalau sedang menyusun undang-undang, tidak ada konflik kepentingan.  

            “Pak prajurit, kau ingat tidak? Dahulu kau suka berkelahi di bawah pohon itu.” Gentung menunjuk ke arah pohon rambai besar yang sudah berada di sana sejak dulu. Pohon itu rindang namun sudah tak lagi berbuah. Umurnya lebih tua daripada mereka.

            “Itu kan karena kau Sri.” Ucap Puja. Ia tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian itu. “Kau itu dulu cengeng sekali kalau diganggu anak-anak lainnya” lanjutnya.

“Wah, wah. Ternyata jiwa melindungi itu sudah ada sejak kecil.” Jawab Sri.

Hingga kini Puja memang menjadi garda terdepan dalam misi-misi kemanusiaan. Ia kerap turun ke medan pertempuran, seringnya di negeri-negeri perang. Kadang-kadang Puja juga berjaga-jaga di wilayah perbatasan. Namun, Indonesia hari ini  memang sudah tak ada lagi pertumpahan darah. Barangkali negeri ini sudah lupa apa itu anarkis. Orang-orang hidup dalam keberadaban.         

            Tak terasa matahari sudah beranjak naik ke atas kepala. Hari sudah siang. Bel kembali berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar kelas. Mereka yang sedang asik bercerita di selasar sama-sama tak ingat waktu. Tentang momen masa kecil di kampung halaman dua puluh tujuh tahun lalu, tentang upacara di hari Senin, tentang ruang-ruang belajar yang terbuat dari susunan kayu, sama sekali tidak luput dari ingatan. Pak Buyung, bila ia sekarang ada di sini, semuanya akan terasa benar-benar sempurna.

             Dua puluh tujuh tahun. Semua sudah berbeda. Indonesia hari ini tidak seperti negeri yang dulu. Apa yang mereka teriakkan dengan lantang di lapangan upacara ini, sudah merasuk jauh ke dalam jiwa. Apapun pekerjaan mereka, di manapun mereka berada, kelima sila itu selalu mewarnai tindakan. Hari ini, Senin 23 Juni 2047, mereka menatap podium dari balik di selasar. Membayangkan Pak Buyung memimpin pembacaan pancasila dan mereka mengikutinya.

***

#Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi penulisan cerpen "Kemerdekaan" yang ditaja oleh BPIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...