Langsung ke konten utama

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran



          
       


          

Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka.

Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran.

Level distraksi yang sudah sangat parah adalah munculnya kecanduan terhadap game online. Dengan  pesatnya perkembangan teknologi game saat ini, pelajar menganggap bahwa game jauh lebih mampu menyalurkan minat dan kemampuan mereka dibandingkan mendengarkan materi yang bersifat membosankan di kelas. Tingkat keparahannya pun tidak main-main, seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian dari  dosen Psikologi Universitas Indonesia,  Edo S. Jaya, ditemukan bahwa  45,3% dari 3.264 siswa sekolah bermain game online selama sebulan terakhir dan tidak berniat untuk berhenti. Kasus yang lebih extreme lagi adalah peristiwa di Amerika Serikat, dimana seorang ayah tiga anak berusia 35 tahun tewas setelah main game 22 jam non-stop. Ada lagi cerita seorang pria 20 tahun di Republik Rakyat Cina tewas setelah main game King of Glory sembilan jam setiap hari selama lima bulan.

Hal ini tentu begitu menghawatirkan untuk dunia pendidikan. Diperlukan suatu inovasi dalam pembelajaran sehingga jalannya proses belajar mengajar dapat menjadi lebih interaktif bagi siswa. Jika saya berada pada posisi seorang guru dari siswa kelas 6 SD yang notabene masih asik dengan dunia mereka, tentu saya tidak akan menyodorkan teori-teori sains kepada mereka bulat-bulat, mungkin saya akan melakukan berbagai  pendekatan dari hal-hal  yang mereka sukai. Seperti penganalogian terhadap game yang sedang mereka mainkan, atau  kartun yang sedang mereka ikuti, atau dari  komposisi makanan yang mereka gunakan untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sejatinya banyak pendekatan sederhana untuk menghidupkan ilmu pengetahuan untuk para pelajar ini. Sehingga mempelajari sains adalah sesuatu yang menarik menurut mereka, tak kalah menarik dari game-game yang membuat mereka candu.

Bukti dari contoh implementasi game dalam pendidikan ini, telah menjadi pembahasan utama dari Ivan Boo, sekretaris dan pendiri dari Serious Games Association (Singapore). Dalam Serious Games Conference 2014 di Korea Selatan, Ivan Boo memberikan presentasi terkait kompetisi internasional Serious Game Aqua Republica, berjudul The Eco Challenge. Inovasi ini terbukti mampu meningkatkan keberhasilan pendidikan untuk kalangan pelajar di sana.

Untuk skala kecil, tidak pun merumuskan coding untuk menciptakan aplikasi game pendidikan yang canggih, para pengajar bisa menciptakan nuansa bermain yang sederhana  sambil memasukkan nilai-nilai keilmuan di dalamnya. Siswa akan menjauhkan fikiran mereka tentang sekolah yang dianggap membebani mereka dengan PR, ujian, dan evaluasi setiap tahunnya.  Hal ini adalah hal yang perlu menjadi perhaitan bagi para pengajar dalam berkreatifitas untuk pengintegrasian media pembelajaran. Lagi-lagi, Ini adalah tentang bagaimana siswa tersebut menumbuhkan kecintaan mereka terhadap apa yang mereka pelajari, tidak lagi sekedar hadir di sekolah agar mendapat uang jajan dari orang tua mereka.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...