Langsung ke konten utama

Hak atas Tanah dan Kota bagi Kaum Marginal



Hasil gambar untuk kaum marginal arts

Ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia adalah permasalahan lama yang tidak pernah selesai. Padahal bulir terakhir dari Pancasila bahkan secara jelas menerangkan perihal ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‘. Pada faktanya, keadilan adalah suatu narasi agung yang selalu diajarkan pada kalangan pelajar, dibahas oleh kalangan akademisi, dan dirapatkan oleh para pemangku jabatan, namun riskan dalam implementasi.

Untuk membahas perihal hak warga negara, terlebih dahulu mesti disinggung perihal siapa, kenapa, dan bagaimana suatu kebijakan dibuat dalam pemenuhan hak-hak tersebut. Dalam hal ini, semua tentu sepakat mengatakan bahwa creator kebijakan-kebijakan tersebut adalah orang-orang yang berkredibilitas tinggi dengan pemahaman yang mumpuni terkait hukum dan ketatanegaraan. Tapi tidak bisa disangkal bahwa mengenai  keberpihakannya, adalah sesuatu yang berbeda. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan suatu aturan, tentunya diperhitungkan pula prospek-prospek lain, yang mugkin dapat membawa benefit untuk beberapa aspek, beberapa perusahaan, beberapa orang, namun bukan khalayak.

Bagi kaum terpinggirkan, terlalu jauh bagi mereka untuk memikirkan masa depan bangsa, polemik korupsi, perebutan kekuasaan, perkembangan industri, perkembangan riset dan lain sebagainya ketika harapan mereka hanya untuk melanjutkan hidup. Para kaum marginal ini mungkin tidak tau ada hak-hak mereka yang dijamin oleh Undang-Undang. Mereka bahkan buta hukum dan tidak memahami posisi mereka sebagai warga negara.

Kisruh sengketa tanah rakyat-pemerintah adalah buntut dari prosedural yang rumit dan ketidakramahan aparat. Beberapa masyarakat yang mempertahankan tanah hasil turunan dan adat, sering kali bermasalah terkait lisensi dan kepemilikan. Lebih buruk lagi, bahkan ada yang sama sekali tidak mempunyai tanah sehingga menempati ruang-ruang dan fasilitas negara untuk sekadar tempat berteduh. Orang-orang terpinggirkan ini, bagi pemkot setempat, terlihat merusak pemandangan dan keindahan kota. Bayaknya orang-orang yang kemudian disebut ‘gelandangan‘ ini, seharusnya menjadi indeks bahwa kota yang indah tersebut masih minim kesejahteraan. Mungkin sebagian masyarakatnya sejahtera, namun kata ‘sebagian‘ ini justru adalah simbol dari ketidakadilan sosial yang terjadi.

Belum lagi terkait masalah penggusuran paksa masyarakat yang tinggal di bantaran kali atau daerah-daerah untuk pembangunan. Permasalahan ini juga bukan hal yang baru namun jarang didapati kesepakatan yang solutif diantara kedua belah pihak. Benrok-bentrok yang terus terjadi mengindikasikan adanya masalah-masalah baik di dalam regulasi pembagunan, sosialisai dan jaminan masyarakat, bahkan edukasi masyarakat itu sendiri.

Bagaimanapun juga, kaum marginal tersebut adalah warga negara yang memiliki hak yang sama di mata hukum. Mereka berhak mendapat tanah dan pekerjaan. Sama seperti para koruptor yang bahkan dapat membeli pulau untuk dirinya sendiri. Mereka semua adalah warga negara. Pada hakikatnya, posisi kaum marginal ini jauh lebih superior daripada investor asing dan tenaga kerja asing yang disupply pemerintah. Kehadiran mereka seharusnya menjadi hal yang lebih prioritas untuk disejahterakan berdasarkan status.




Tulisan ini dibuat untuk perekrutan anggota UKM KSM Eka Prasetya UI 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...