Gala
yang mengantarnya pulang.
Tanah-tanah sudah ditandai. Di bawah
pohon kamboja itu, Datuk yang dihormati sudah memutuskan. Sepetak untuk suku
Koto, sepetak untuk suku Jambak, sepetak untuk suku Malinsiang, dan seterusnya untuk
semua suku yang ada.
Dalam adat Minang, memang biasanya orang-orang yang meninggal akan dimakamkan sesuai suku asli ibunya. Bila ayahmu orang Chaniago, Sedangkan Ibumu orang Tanjung, maka kelak kau akan dimakamkan bersama ibumu dan leluhur Tanjung lainnya. Sedangkan ayahmu akan kembali ke keluarga ibunya, nenekmu, untuk beristirahat bersama orang-orang Chaniago pula. Demikianlah keteraturan yang turun-temurun diajarkan, sehingga suku adalah keluarga, suku adalah tempat kau ‘pulang’, suku adalah pembatas siapa-siapa saja yang diperkenankan untuk kau nikahi, suku artinya sedarah.
Tapi kini sekat-sekat antara tanah perkuburan suku jadi semakin dekat. Tidak lagi dipisahkan pemukiman atau ladang untuk berkebun. Kini, orang-orang yang sudah ‘pulang’ akibat sesak nafas, bisa sama-sama dikubur berdampingan tak peduli apapun sukunya.
Mungkin, jika bisa memilih,
orang-orang itu pasti lebih suka ‘pulang’ akibat diabetes atau sesederhana
jatuh dari tempat tidurnya. Mungkin mereka lebih suka ‘pulang’ akibat obesitas
atau penyakit karna makanan berlemak dan makanan tidak sehat lainnya. Tapi
orang-orang itu tidak bisa memilih, Tuhanlah yang lebih tahu, bahwa mereka
adalah orang-orang yang sudah digariskan untuk ‘pulang’ dengan cara ini, ketika
wabah besar melanda negeri.
∞
Gala
tidak menghapus peluhnya, ia terus menggali dan membiarkan matahari membuat
gumpalan air sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Tentu itu tidak seberapa
dibandingkan air mata keluarga yang remuk redam di seberang jalan. Menunduk
tabah tanpa ada kata-kata perpisahan. Biasanya para keluarga hanya menatap
nanar ke arah para penggali kubur macam aku dan Gala. Lalu mereka berpura-pura
menjadi kami, berpura-pura menurunkan peti, berpura-pura menimbuni,
berpura-pura mengantarkan ‘pulang’ orang-orang yang mereka cintai.
Tapi, Gala yang
mengantarnya pulang.
∞
Kelurahan Dadok Tunggul Hitam,
sebuah kampung di salah satu sudut kota Padang, adalah kampung kami. Aku, Gala,
dan beberapa pemuda lainnya telah memutuskan untuk menjadi tukang gali kubur
dadakan, seiring semakin banyaknya korban akibat pandemi ini. Untuk para
mahasiswa seperti aku dan Gala, menjadi relawan seperti ini hanya atas dasar
kemanusiaan. Menemani orang-orang yang tidak sempat ditemani orang terdekatnya,
atau lebih tepatnya tidak bisa. Karena membiarkan para keluarga menemani
orang-orang sekarat ataupun yang sudah meninggal, artinya membiarkan pekerjaan
kami menjadi semakin berat.
Sudah sebulan aku dan Gala menjadi
relawan. Aku ingat benar, pada malam sabtu empat minggu yang lalu, kami
berkumpul di rumah Datuk Fatah sehabis pulang dari surau. Sudah barang tentu membahas hal-hal penting untuk
dibicarakan. Sejatinya kami tidak pernah kerepotan soal problematika sosial,
karena kami punya Ninik Mamak tempat
bertanya dan meminta petuah. Kalaupun misalnya ada perselisihan, maka pastilah
akan dikembalikan kepada adaik.
Sebagaimana falsafah Minang, “Adaik
basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”.
Pada
pertemuan itu, kami tidak akan berlarut-larut membahas siapa yang paling
dirugikan. Karena kalau boleh dikatakan, tidak dapat dihitung berapa kerugian
yang dialami para tengkulak-tengkulak itu. Mereka bahkan tidak balik modal.
Truk pengangkut barang dari Jakarta sudah terlanjur diperintahkan untuk
berbalik arah oleh polisi yang menjaga di perbatasan. Tidak boleh masuk
sembarangan ke area Sumatera Barat. Belum lagi penjual oleh-oleh keripik sanjay
di sepanjang jalan lintas Sumatera, yang sudah gulung tikar dahulu sebelum
musim lebaran tiba, atau lebih tepatnya, tidak ada mudik di tahun ini.
“Karena itulah, susah jo
sanang ditangguang basamo”, kata datuk Fatah.
Pada
pertemuan itu, aku lagi dan lagi mengagumi sosok Gala, anak TKW yang begitu
kukenal. Pemuda miskin yang kaya pegetahuan. Bicaranya cakap tidak suka
meninggi. Dia adalah bintang utama orator di kampus kami, dia adalah pemimpin
demo mahasiswa di jalan-jalan, dia adalah kepercayaan Datuk Fatah yang selalu
dilibatkan dalam pengambilan keputusan musyawarah.
“Tentulah datuk, tidak ada ikhwal yang
membuat kami pantas hilir mudik di kampung ini, tanpa ada yang bisa kami
sumbangkan untuk dunsanak5
kita. Ambo6 bukanlah ahli
medis, untuk bisa mencari sekiranya ramuan pereda sesak di dada mereka. Ambo tidak paham epidemiologi, untuk bisa
mencari tau fase-fase krisis pandemi. Ambo bukanlah seorang ekonom, yang pandai
memulihkan roda perekonomian. Ambo hanya punya sedikit tenaga di badan. Biarlah
tenaga-tenaga ini Ambo hibahkan, barangkali bisa mengobati kesedihan
orang-orang yang berpulang. Ambo ingin menjadi wali bagi keluarga mereka yang
tak dibolehkan mendekat. Ambo dan teman-teman siap bersenjatakan hazmat,
membantu para tugang gali kubur yang tampaknya sudah kewalahan, Datuk” Ceramah
gala di pertemuan itu.
∞
Sejauh
ini, sudah ada ratusan orang yang kami makamkan. Jika tidak ada orang yang meninggal, aku dan Gala pasti akan pergi
memancing ikan di danau. Biasanya, Danau Singkarak selalu menjadi menjadi
pilihan kami. Sebelum terjadi wabah, waktu-waktu sekarang ini adalah waktu bagi
muda mudi menghabiskan sore dengan saling bercengkerama di tepi danau. Biasanya
juga banyak keluarga yang piknik di sini, membawa rantang-rantang makanan dan
tikar untuk di bentangkan di bawah pohon karambia. Tapi pemandangan itu sudah
tidak ada. Di sini hanya ada aku dan Gala, memancing beberapa ikan Bilih segar
yang sudah lama tak diberi makan.
“Tanjak siapa itu?” tanyaku pada Gala,
ketika ia mengeluarkan sejenis topi khas melayu itu dari dalam tas nya.
“Oleh-oleh dari ibuku Ran,
sekembalinya dari Malaysia tujuh tahun lalu.”
Mendengar hal itu, aku menyadari bahwa
seharusnya aku tidak bertanya demikian
“Gala, bukan maksudku….”
“Indak
baa, Ranu.” Balasnya cepat.
Aku
sedikit merasa bersalah telah mengingatkan pemuda itu pada ibunya.
Bagaimanapun, dia tak mampu menyembunyikan kerinduan itu dari sorot mata nya.
Sudah tujuh tahun ibunya yang berkerja di negeri Jiran itu tak pulang. Mungkin
tak ada impiannya yang lebih besar daripada menjadi petani sukses di kemudian
hari, lalu menjemput ibunya, lalu menemaninya menua.
Ibu Gala sudah seperti ibuku. Wanita dengan tahi lalat di bawah
matanya itu adalah sosok yang tak mudah dilupakan. Pernah suatu ketika aku dan
Gala menghindari pergi mengaji di surau
selepas maghrib. Ibunya pasti sudah menunggu kami dengan sebilah rotan di
tangan. Namun wanita itu tidak pernah benar-benar memukul kami, ia justru
memukuli pelepah-pelepah karambia di
kebun belakang sambil mensimulasikan beginilah hukuman di akhirat bagi
anak-anak yang malas mengaji.
∞
“Ranuuu! Angkat pancinganmuu... Bilih
itu sudah megap-megap!!”
“Eh? mana manaa…?!”
“Tarik Ranu, Tariiikkkk!!”
Aku terus menggulung benang pancingku,
badanku terhoyong-hoyong mengikuti amukan ikan ini.
“Katumbuang!!
Ini….ini berat sekalii..!”
“Jangan kau lepas!”
“Tapi benangnya hampir putuuus..!!”
“Jangan dikendorkaann!!”
“Pancinganku hampir menyerah..!”
“Gulung terus Raaaannnnn…!”
“Sebaiknya kau bantu aku Gala!
Jangan terlalu banyak bicaraa...”
Setelah memenangkan duel itu, kami
memutuskan beristirahat sebentar untuk mengatur napas. Ada banyak hal yang bisa
dilakukan sambil beristirahat. Aku menggapai-gapai dahan pohon rambai yang bisa
dijangkau dengan tangan. Buah nya yang menguning benar-benar menarik
perhatianku sejak awal tiba di danau tadi. Ketika dimakan, rasa nya begitu kelat
hingga membuat mataku terpicing. Namun dari sudut sini, aku memperhatikan Gala
yang tetap saja memilih merebahkan badannya di pondok beratap jerami itu,
sambil terus mengibaskan tanjak berwarna coklat nan lusuh itu ke muka nya,
seolah-olah bisa mendatangkan angin sepoi.
Aku menduga benda itu –tanjak tua
berlubang yang dikibaskannya sejak tadi–adalah benda yang ia genggam ketika
telepon itu datang, telepon dari negeri Jiran. Sungguh, demi alhamarhum ibuku,
panggilan itu adalah panggilan terburuk yang pernah ada. Hal apa yang ada di
benak kita ketika seseorang yang sangat kita rindukan tiba-tiba menelpon?
Mungkin kita akan terkesiap dan berlari menuju panggilan itu. Bisa saja kita
sudah membayangkan wajah seseorang itu, atau berfikir dia akan berkata “Aku akan
pulang sebentar lagi” atau menebak dia akan bertanya “Oleh-oleh apa kali ini
yang kau inginkan?” atau berkhayal dia sudah mendarat di depan pintu rumah
untuk memberi kejutan. Nyatanya, tidak.
Sore itu adalah hari dimana yang
menelepon bukanlah ibu Gala, melainkan dinas kesehatan negeri Jiran. Mereka
dengan sangat hati-hati mengabarkan bahwa wanita itu, tetangga terdekatku,
tengah diisolasi dari sebuah penyakit yang menggemparkan dunia. Dia sedang
meringkuk di ranjang dengan napas yang sesak. Wanita itu, ibu Gala, sudah
menjadi satu di antara orang-orang yang harus terbatuk-batuk setiap saat dengan
suhu tubuh melebihi batas normal. Apa yang dilakukan Gala setelah mendengarnya?
Gala tidak banyak berpikir.
Memecahkan celengannya. Mendatangi rumahku, rumah datuk Fatah, rumah para
pemuka adat, rumah siapa saja yang bersedia memberinya pinjaman cepat. Siapa
saja yang mau menolongnya menggenapkan uang tabungan yang memang disiapkannya
untuk urusan –menjemput ibunya pulang– ini. Atau setidaknya menjenguknya dan
memastikan wanita itu baik-baik saja.
Tapi
semua terlambat. Akses keluar masuk sudah dijaga penuh kepolisian. Bandara
tidak beroperasi. Negeri Jiran sudah menutup diri rapat-rapat. Tidak ada celah
bagi Gala untuk menyusul ibunya. Perbatasan antarnegara sudah dikunci mati.
Gala, temanku itu, tidak mampu membayangkan ibunya yang sendirian, jauh dari
langgam adaik dan budaya di ranah
Minang. Malapeh salam di nagari urang.
“Jadi, sampai kapan kita akan
menjadi tukang gali kubur?” Tanyaku
“Sampai semua orang yang ‘pulang’
benar-benar bisa ditemani keluarganya” Gala menyeka air mata.
“Kau sudah mengantarkan ‘pulang’
banyak orang, Gala.”
“Meskipun tidak dengan ibuku.”
“Ibumu sudah ‘pulang’ dengan bahagia, dan
menurutku negeri Jiran itu tempat yang
bagus ”
Sekali lagi, Gala lah yang
mengantarkan orang-orang itu pulang

Sepertu biasa, tulisan Clara Mantappu Jiwa. Izinkan Jo meninggalkan jejak di sini Clar (wahaha)😅
BalasHapusWkwkwkwk, arigatou jo :)
BalasHapus