Langsung ke konten utama

CERPEN : Tanjak dari Negeri Jiran









 Tanjak dari Negeri Jiran
Oleh : Clara Riski Amanda


Gala  yang  mengantarnya pulang.

     Tanah-tanah sudah ditandai. Di bawah pohon kamboja itu, Datuk yang dihormati sudah memutuskan. Sepetak untuk suku Koto, sepetak untuk suku Jambak, sepetak untuk suku Malinsiang, dan seterusnya untuk semua suku yang ada.

Dalam adat Minang, memang biasanya orang-orang yang meninggal akan dimakamkan sesuai suku asli ibunya. Bila ayahmu orang Chaniago, Sedangkan Ibumu orang Tanjung, maka kelak kau akan dimakamkan bersama ibumu dan leluhur Tanjung lainnya. Sedangkan ayahmu akan kembali ke keluarga ibunya, nenekmu, untuk beristirahat bersama orang-orang Chaniago pula. Demikianlah keteraturan yang turun-temurun diajarkan, sehingga suku adalah keluarga, suku adalah tempat kau ‘pulang’, suku adalah pembatas siapa-siapa saja yang diperkenankan untuk kau nikahi, suku artinya sedarah.

Tapi kini sekat-sekat antara tanah perkuburan suku jadi semakin dekat. Tidak lagi dipisahkan pemukiman atau ladang untuk berkebun. Kini, orang-orang yang sudah ‘pulang’ akibat sesak nafas, bisa sama-sama dikubur berdampingan tak peduli apapun sukunya.

      Mungkin, jika bisa memilih, orang-orang itu pasti lebih suka ‘pulang’ akibat diabetes atau sesederhana jatuh dari tempat tidurnya. Mungkin mereka lebih suka ‘pulang’ akibat obesitas atau penyakit karna makanan berlemak dan makanan tidak sehat lainnya. Tapi orang-orang itu tidak bisa memilih, Tuhanlah yang lebih tahu, bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah digariskan untuk ‘pulang’ dengan cara ini, ketika wabah besar melanda negeri.

          Gala tidak menghapus peluhnya, ia terus menggali dan membiarkan matahari membuat gumpalan air sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Tentu itu tidak seberapa dibandingkan air mata keluarga yang remuk redam di seberang jalan. Menunduk tabah tanpa ada kata-kata perpisahan. Biasanya para keluarga hanya menatap nanar ke arah para penggali kubur macam aku dan Gala. Lalu mereka berpura-pura menjadi kami, berpura-pura menurunkan peti, berpura-pura menimbuni, berpura-pura mengantarkan ‘pulang’ orang-orang yang mereka cintai.  

Tapi, Gala yang mengantarnya pulang.

       Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, sebuah kampung di salah satu sudut kota Padang, adalah kampung kami. Aku, Gala, dan beberapa pemuda lainnya telah memutuskan untuk menjadi tukang gali kubur dadakan, seiring semakin banyaknya korban akibat pandemi ini. Untuk para mahasiswa seperti aku dan Gala, menjadi relawan seperti ini hanya atas dasar kemanusiaan. Menemani orang-orang yang tidak sempat ditemani orang terdekatnya, atau lebih tepatnya tidak bisa. Karena membiarkan para keluarga menemani orang-orang sekarat ataupun yang sudah meninggal, artinya membiarkan pekerjaan kami menjadi semakin berat.

        Sudah sebulan aku dan Gala menjadi relawan. Aku ingat benar, pada malam sabtu empat minggu yang lalu, kami berkumpul di rumah Datuk Fatah sehabis pulang dari surau. Sudah barang tentu membahas hal-hal penting untuk dibicarakan. Sejatinya kami tidak pernah kerepotan soal problematika sosial, karena kami punya Ninik Mamak tempat bertanya dan meminta petuah. Kalaupun misalnya ada perselisihan, maka pastilah akan dikembalikan kepada adaik. Sebagaimana falsafah Minang, “Adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”.

        Pada pertemuan itu, kami tidak akan berlarut-larut membahas siapa yang paling dirugikan. Karena kalau boleh dikatakan, tidak dapat dihitung berapa kerugian yang dialami para tengkulak-tengkulak itu. Mereka bahkan tidak balik modal. Truk pengangkut barang dari Jakarta sudah terlanjur diperintahkan untuk berbalik arah oleh polisi yang menjaga di perbatasan. Tidak boleh masuk sembarangan ke area Sumatera Barat. Belum lagi penjual oleh-oleh keripik sanjay di sepanjang jalan lintas Sumatera, yang sudah gulung tikar dahulu sebelum musim lebaran tiba, atau lebih tepatnya, tidak ada mudik di tahun ini.

“Karena itulah, susah jo sanang ditangguang basamo”, kata datuk Fatah.

            Pada pertemuan itu, aku lagi dan lagi mengagumi sosok Gala, anak TKW yang begitu kukenal. Pemuda miskin yang kaya pegetahuan. Bicaranya cakap tidak suka meninggi. Dia adalah bintang utama orator di kampus kami, dia adalah pemimpin demo mahasiswa di jalan-jalan, dia adalah kepercayaan Datuk Fatah yang selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan musyawarah.

“Tentulah datuk, tidak ada ikhwal yang membuat kami pantas hilir mudik di kampung ini, tanpa ada yang bisa kami sumbangkan untuk dunsanak5 kita. Ambo6 bukanlah ahli medis, untuk bisa mencari sekiranya ramuan pereda sesak di dada mereka. Ambo tidak paham epidemiologi, untuk bisa mencari tau fase-fase krisis pandemi. Ambo bukanlah seorang ekonom, yang pandai memulihkan roda perekonomian. Ambo hanya punya sedikit tenaga di badan. Biarlah tenaga-tenaga ini Ambo hibahkan, barangkali bisa mengobati kesedihan orang-orang yang berpulang. Ambo ingin menjadi wali bagi keluarga mereka yang tak dibolehkan mendekat. Ambo dan teman-teman siap bersenjatakan hazmat, membantu para tugang gali kubur yang tampaknya sudah kewalahan, Datuk” Ceramah gala di pertemuan itu.

           Sejauh ini, sudah ada ratusan orang yang kami makamkan. Jika tidak ada orang yang  meninggal, aku dan Gala pasti akan pergi memancing ikan di danau. Biasanya, Danau Singkarak selalu menjadi menjadi pilihan kami. Sebelum terjadi wabah, waktu-waktu sekarang ini adalah waktu bagi muda mudi menghabiskan sore dengan saling bercengkerama di tepi danau. Biasanya juga banyak keluarga yang piknik di sini, membawa rantang-rantang makanan dan tikar untuk di bentangkan di bawah pohon karambia. Tapi pemandangan itu sudah tidak ada. Di sini hanya ada aku dan Gala, memancing beberapa ikan Bilih segar yang sudah lama tak diberi makan.

“Tanjak siapa itu?” tanyaku pada Gala, ketika ia mengeluarkan sejenis topi khas melayu itu dari dalam tas nya.

“Oleh-oleh dari ibuku Ran, sekembalinya dari Malaysia tujuh tahun lalu.”

Mendengar hal itu, aku menyadari bahwa seharusnya aku tidak bertanya demikian

            “Gala, bukan maksudku….”

            “Indak baa, Ranu.” Balasnya cepat.

           Aku sedikit merasa bersalah telah mengingatkan pemuda itu pada ibunya. Bagaimanapun, dia tak mampu menyembunyikan kerinduan itu dari sorot mata nya. Sudah tujuh tahun ibunya yang berkerja di negeri Jiran itu tak pulang. Mungkin tak ada impiannya yang lebih besar daripada menjadi petani sukses di kemudian hari, lalu menjemput ibunya, lalu menemaninya menua.

Ibu Gala sudah seperti ibuku. Wanita dengan tahi lalat di bawah matanya itu adalah sosok yang tak mudah dilupakan. Pernah suatu ketika aku dan Gala menghindari pergi mengaji di surau selepas maghrib. Ibunya pasti sudah menunggu kami dengan sebilah rotan di tangan. Namun wanita itu tidak pernah benar-benar memukul kami, ia justru memukuli pelepah-pelepah karambia di kebun belakang sambil mensimulasikan beginilah hukuman di akhirat bagi anak-anak yang malas mengaji.

            “Ranuuu! Angkat pancinganmuu... Bilih itu sudah megap-megap!!”

            “Eh? mana manaa…?!”

            “Tarik Ranu, Tariiikkkk!!”

Aku terus menggulung benang pancingku, badanku terhoyong-hoyong mengikuti amukan ikan ini.

            “Katumbuang!! Ini….ini berat sekalii..!”

            “Jangan kau lepas!”

            “Tapi benangnya hampir putuuus..!!”

            “Jangan dikendorkaann!!”

            “Pancinganku hampir menyerah..!”

            “Gulung terus Raaaannnnn…!”

            “Sebaiknya kau bantu aku Gala! Jangan terlalu banyak bicaraa...”

Setelah memenangkan duel itu, kami memutuskan beristirahat sebentar untuk mengatur napas. Ada banyak hal yang bisa dilakukan sambil beristirahat. Aku menggapai-gapai dahan pohon rambai yang bisa dijangkau dengan tangan. Buah nya yang menguning benar-benar menarik perhatianku sejak awal tiba di danau tadi. Ketika dimakan, rasa nya begitu kelat hingga membuat mataku terpicing. Namun dari sudut sini, aku memperhatikan Gala yang tetap saja memilih merebahkan badannya di pondok beratap jerami itu, sambil terus mengibaskan tanjak berwarna coklat nan lusuh itu ke muka nya, seolah-olah bisa mendatangkan angin sepoi.

Aku menduga benda itu –tanjak tua berlubang yang dikibaskannya sejak tadi–adalah benda yang ia genggam ketika telepon itu datang, telepon dari negeri Jiran. Sungguh, demi alhamarhum ibuku, panggilan itu adalah panggilan terburuk yang pernah ada. Hal apa yang ada di benak kita ketika seseorang yang sangat kita rindukan tiba-tiba menelpon? Mungkin kita akan terkesiap dan berlari menuju panggilan itu. Bisa saja kita sudah membayangkan wajah seseorang itu, atau berfikir dia akan berkata “Aku akan pulang sebentar lagi” atau menebak dia akan bertanya “Oleh-oleh apa kali ini yang kau inginkan?” atau berkhayal dia sudah mendarat di depan pintu rumah untuk memberi kejutan. Nyatanya, tidak.

         Sore itu adalah hari dimana yang menelepon bukanlah ibu Gala, melainkan dinas kesehatan negeri Jiran. Mereka dengan sangat hati-hati mengabarkan bahwa wanita itu, tetangga terdekatku, tengah diisolasi dari sebuah penyakit yang menggemparkan dunia. Dia sedang meringkuk di ranjang dengan napas yang sesak. Wanita itu, ibu Gala, sudah menjadi satu di antara orang-orang yang harus terbatuk-batuk setiap saat dengan suhu tubuh melebihi batas normal. Apa yang dilakukan Gala setelah mendengarnya?

          Gala tidak banyak berpikir. Memecahkan celengannya. Mendatangi rumahku, rumah datuk Fatah, rumah para pemuka adat, rumah siapa saja yang bersedia memberinya pinjaman cepat. Siapa saja yang mau menolongnya menggenapkan uang tabungan yang memang disiapkannya untuk urusan –menjemput ibunya pulang– ini. Atau setidaknya menjenguknya dan memastikan wanita itu baik-baik saja.

      Tapi semua terlambat. Akses keluar masuk sudah dijaga penuh kepolisian. Bandara tidak beroperasi. Negeri Jiran sudah menutup diri rapat-rapat. Tidak ada celah bagi Gala untuk menyusul ibunya. Perbatasan antarnegara sudah dikunci mati. Gala, temanku itu, tidak mampu membayangkan ibunya yang sendirian, jauh dari langgam adaik dan budaya di ranah Minang. Malapeh salam di nagari urang.

            “Jadi, sampai kapan kita akan menjadi tukang gali kubur?” Tanyaku

“Sampai semua orang yang ‘pulang’ benar-benar bisa ditemani keluarganya” Gala menyeka air mata.

            “Kau sudah mengantarkan ‘pulang’ banyak orang, Gala.”

            “Meskipun tidak dengan ibuku.”

   “Ibumu sudah ‘pulang’ dengan bahagia, dan menurutku negeri Jiran itu tempat    yang bagus ”

Sekali lagi, Gala lah  yang mengantarkan orang-orang itu pulang

 


#Tulisan ini meraih juara 1 Lomba Cerpen Tingkat Nasional Kategori Mahasiswa yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Negeri Gorontalo dan dimuat di koran Republika

Komentar

  1. Sepertu biasa, tulisan Clara Mantappu Jiwa. Izinkan Jo meninggalkan jejak di sini Clar (wahaha)😅

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Pendataan Sebaran Wabah Demam Berdarah Menggunakan Termometer Berbasis Telepon Pintar

Hasil publikasi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat secara global selama lima dekade terakhir. Sekitar 50 hingga 100 juta infeksi baru diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik. Menurut WHO, wilayah Asia Tenggara terdiri dari 52% populasi yang berisiko terdampak virus dengue untuk semua negara anggota kecuali Republik Rakyat Korea. Di antara negara-negara endemik tersebut, Indonesia, Myanmar, Thailand dan Sri Lanka dilaporkan memiliki jumlah kasus tertinggi (WHO, 2012). Tingginya kasus demam berdarah ini menjadi penyumbang terbesar angka kematian di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan daerah sebaran penyakit semakin bertambah. Data terbaru dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2019. Nilai CFR di tahun 2019 adalah sebesar 0,94 yan...

Pengintegrasian Sarana Pembelajaran

                              Realitas pendidikan kita saat ini masih sarat akan transfer informasi satu arah, dimana guru masih menjadi sentral dari kegiatan pembelajaran. Pola seperti ini hanya akan membuat siswa menelan mentah-mentah apa yang mereka dengar, tanpa ada ketertarikan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak jarang bahwa mereka bersekolah hanya untuk sekedar datang dan memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Sehingga dapat  terlihat bahwa gairah ilmu pengetahuan masih belum terpatri dalam diri mereka. Berbagai persoalan bisa melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah berbagai distraksi yang mereka anggap jauh lebih menarik daripada kegiatan belajar mengajar di kelas. Suasana kelas yang monoton bisa memicu kejenuhan yang tak terelakkan, terlebih jika mereka terkadang memang tidak tertarik dengan suatu bahan pembelajaran. Le...

HARI SENIN DI SELASAR

  HARI SENIN DI SELASAR Oleh : Clara Riski Amanda Mereka empat bocah kelas dua sekolah dasar. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, Teguh adalah ketua yang memegang komando. Kalau ada yang berkelahi, Teguh akan pasang badan. Tapi mereka tidak pernah berkelahi, kecuali bila Puja menjahili rambut Sri yang tidak pernah disisir rapi. Sedangkan Gentung lebih suka bercuap-cuap untuk menceramahi ketiga temannya. Mereka anak-anak pedalaman. Kalau mandi mencari sungai, kalau main mencari sawah. Kalau tidak ada PR hitung-hitungan dari Pak Buyung, mereka akan menyabit rumput untuk makanan ternak. Kalau ayah mereka pulang dari laut, mereka akan menunggu di pesisir hingga hari petang untuk menyambut ratusan kilogram ikan segar. Kalau ibu mereka pulang dari ladang, mereka akan berebut mengangkat karung-karung berisi cabai dan bawang yang lebih besar ukurannya daripada badan. Kalau berangkat sekolah, mereka akan berjalan kaki dengan sepatu yang dikaitkan ke leher. Gentung b...